Mengenakan seragam bebas rapih – kaos berkerah, celana panjang dan sepasang sepatu sandal mewarnai setiap pagi Andreas Gandhi Hendra Pratama. Ya, dialah saya, Gandhi, yang setiap pukul 06.40 pagi telah siap dengan sepeda motornya untuk menempuh perjalanan sejauh kurang lebih 11 km menuju SMA Kolese de Britto, atau biasa disebut dengan SMA JB. Tenang, bukan Justin Bieber kok, saya juga tidak ngefans, tetapi JB adalah ‘John de Britto’. Sebuah sekolah SMA yang diisi hanya oleh para “manuk” – sebutan bagi kami para civitas alumni/mahasiswa JB yang pria semua – yang tepat berada pada perbatasan Kabupaten Sleman dan Kotamadya Yogyakarta. Meski jarak yang ditempuh setiap harinya cukup jauh, saya sudah terbiasa berangkat dengan waktu yang hanya kurang lebih 15 – 20 menit atau bahkan 10 menit sebelum jam masuk sekolah. Bukan tanpa konsekuensi, persiapan dari rumah untuk menjadi seorang Valentino Rossi di jalan raya memang harus selalu dilakukan. Walaupun hampir tidak pernah sama sekali saya terlambat masuk ke sekolah, tetapi memang ‘senam jantung’ selalu menjadi olahraga favorit bagi saya dan ibu saya di pagi hari. Setiba di JB, suasana sekolah yang dipayungi oleh barisan pohon di setiap sudut taman selalu membuat de Britto terasa begitu nyaman. Kelas yang hampir semuanya hanya memiliki tembok berukuran 1/2 dinding secara utuh, dan semi-outdoor semakin mendukung suasana belajar ke dunia mimpi, atau biasa kita sebut dengan tidur di kelas.
Kenangan akan kenyamanan de Britto hingga kini masih terasa, dan bahkan terkadang kenangan 4 tahun di sana pun selalu menjadi sebuah bahan refleksi hingga saat ini. Lho? 4 tahun? Iya benar, saya diberikan sebuah anugerah untuk merasakan masa yang paling ditunggu oleh anak muda di jenjang pendidikan sekolah, yaitu SMA selama 4 tahun. Akibatnya, di awal semester perkuliahan saya sering mendengar beberapa pertanyaan menarik yang hampir selalu saya jawab seperti robot. “Ikut AFS ya Mas Gandhi?”, “Ikut exhange ke mana mas dulu?”, “Apa cuti mas pas SMA?”. Jawaban yang dulunya dirasa (mungkin) akan suit, akhirnya semakin mudah seiring berjalannya waktu. “Wah bukan dik, mas, mbak, om, tante, bapak dan ibu, saya dulu tidak naik kelas. Jadi harus SMA selama 4 tahun di JB”. Kemudian pertanyaan selanjutnya biasanya selalu seperti ini,”Wah ya mana mungkin mas. Bercanda mas nya. Pasti dulu exchange tapi gamau ngaku ya”. Jawab saya,”Wah lha buat apa saya bohong wong (orang) dulu saya sampe mau pindah sekola biar naik kelas, tapi ya mau gimana lagi nggak dapet. Jadi saya memilih mengulang saja di JB”. Masih tidak percaya dan heran, biasanya investigator jenis ini selalu bertanya,”Lha kok bisa keterima UGM mas? Jalur undangan lagi”. Jawaban saya pun sampai sekarang juga masih mengundang pertanyaan bagi saya sendiri,”Wah saya kurang tau juga kok ya bisa ya keterima, mungkin karena jaman saya masih menggunakan rapor semester 3-5 jadi tidak ketahuan kalau tidak naik kelas” – mungkin suatu hari saya akan bertanya ke kampus agar bisa menjelaskan ini. haha… Selanjutnya percakapan kembali normal dan saya yakin sepulang bertemu saya (terutama untuk orang tua) pasti akan langsung membicarakan si bocah tidak naik kelas ini.
Apabila mengingat lebih jauh ke belakang, saya ingat dengan benar betapa kaget dan terdiamnya saya saat membuka map biru dari wali kelas saat itu. Tradisi di de Britto adalah membuka rapor kenaikan kelas bersama-sama 1 kelas dan melihat tulisan di ujung kanan bawah apakah kamu dinyatakan naik/tidak naik. Sayangnya, TIDAK NAIK adalah 2 buah kata yang menghujam rapor saya waktu itu. Rapor tersebut dibagikan pada pukul 08.00 pagi, dan saya yang dirundung duka ini pun tidak memiliki keberanian yang cukup untuk pulang. Jangankan untuk pulang, saya justru hanya bisa terdiam melihat teman-teman saya menangisi kenaikan kelasnya. Akhirnya, saya memilih untuk mematikan handphone dan pergi hingga pukul 16.00 sore. Meski seorang pria, saya ingat pernah menangis beberapa jam setelah rapor tersebut dibagikan di pinggir lapangan sekolah sambil melihat seorang teman lain merayakan keberhasilannya masuk ke babak baru kelas XII dengan berlari menggunakan ‘sempak’ – celana dalam pria. Sambil terus menyalahkan diri sendiri dan orang lain, saya merasa bahwa inilah titik terendah dalam hidup saya. Setelah memutuskan untuk pulang ke warung makan ibu saya dekat rumah, tanpa banyak berkata ibu saya langsung menangis meratapi anaknya yang dulunya rajin juara kelas ini dan menerima kenyataan yang dituliskan oleh 2 buah kata di map berwarna biru tadi. Hari demi hari orang tua saya mencoba menerima kenyataan akan betapa malu nya mereka bahwa anak pertama mereka tidak naik kelas. Beberapa kali saya sempat dimarahi karena tidak bisa menjadi contoh untuk adik saya. Ibu dan ayah saya sempat mengurus ke de Britto tentang tidak naik kelasnya saya, dan sampai beberapa waktu yang saya tahu adalah ‘nilai saya belum cukup’. Sempat setidaknya 1x mereka mencoba memindahkan saya ke sekolah lain, dan saat hal tersebt hampir terealisasi, pada hari di mana saya akan dipindahkan, rupanya kepala sekolah dari SMA tersebut belum kembali dari luar kota, dan saya harus segera mengurus daftar ulang. Mungkinkah Tuhan memang menghendaki ini?
Setelah gagal memperoleh sekolah baru, akhirnya saya memutuskan untuk mengulang SMA di de Britto atas restu orang tua. Saya bersedia mengulang kelas XI dengan berbagai konsekuensi. Seragam bebas khas de Britto dicabut oleh pihak sekolah selama 1 semester sampai saya bisa memperbaiki nilai saya, dan artinya saya harus menggunakan seragam yang hanya ada 1 pasang – digunakan setiap senin saja – selama 6 bulan. Kemudian rambut ‘agak gondrong’ – JB membebaskan rambut siswanya – saya juga harus dipotong hingga botak. Bayangkan ketika kamu adalah orang (yang mungkin merasa) paling tidak beruntung di dunia saat itu dan dirundung kekecewaan, harus berjalan di depan umum dengan sebuah kostum berbeda. Apa yang terjadi? Inilah yang saya sebut dengan hukuman secara moral dengan menaruh ‘malu’ mu pada epidermis terluar dari kulit. Meski demikian, saya berusaha sesiap mungkin menjalani hari-hari VOC saya di JB dengan selalu berkata pada diri sendiri bahwa “Gandhi, kamu bisa!”
3 bulan berlalu, 6 bulan, dan bahkan 1 tahun akhirnya Andreas Gandhi Hendra Pratama naik ke kelas XII dengan … nilai yang puji Tuhan memuaskan. Untuk mata pelajaran TIK saya tidak perlu mengikuti ujian karena mendapatkan satu-satunya nilai 100 dalam 1 angkatan, bahasa Jerman saya berhasil mengalahkan banyak siswa yang les di PUSMAN UGM, Kimia saya tertinggi di 1 angkatan, dan bahkan saya telah melengkapi tugas saya sebagai jurnalis lepas dengan menulis pada beberapa rubrik dari 5 Koran (surat kabar) berbeda di Yogyakarta, termasuk Kompas Muda. Apakah itu cukup? Setidaknya untuk seorang VOC itu cukup baik meski banyak teman lain jauh  lebih berprestasi dari saya tentunya. Akhirnya, tidak terasa 1 tahun penuh perjuangan itu pun telah berlalu. Siswa yang secara normal hanya perlu live-in – seperti KKN, tetapi ala de Britto, lebih berat. I’m sure about it – sebanyak 1 kali, untuk VOC di kelas XI, kami mengalami live-in sebanyak 3x. Sebelum tidak naik kelas, saat mengulang kelas tersebut, dan saat dihukum pada proses sebelum tahun ajaran baru. Berita lebih baik pun hadir dari sisi sifat buruk saya saat berkendara motor. Saya yang telah mengalami kecelakaan sebanyak 12 kali ini pun akhirnya seperti dibangkitkan dan menjadi lebih berhati-hati di jalan dengan total clean sheet selama 1 tahun tanpa kecelakan dan masuk rumah sakit.
Matahari pertama di kelas XII pun akhirnya terbit, dan dalam sekejap menyilaukan mata. Hal yang saya pikirkan saat itu adalah : setelah ini mau kuliah di mana ya. Bukan tanpa alasan, kelas 3 merupakan pintu terakhir pendidikan sekolah yang telah memberikan banyak warna bagi semua anak muda di Indonesia, dan babak baru masa depan akan segera menyiapkan kendaraan baru bagimu untuk bertualang. Kemudian tak lama kelas 3 berselang, akhirnya beberapa universitas swasta mulai membuka tes penerimaan mahasiswa baru, dan saat itu saya mencoba salah satu universitas swasta terbaik di Yogyakarta, yaitu Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) mengingat pada kelas XII, tepatnya di semester 1, saya berhasil memenangkan salah satu lomba yang mereka adakan. Hal tersebut membuat saya memperoleh diskon yang cukup besar unuk biaya masuk dengan hanya menggunakan rapor dan prestasi. Berhubung UKDW terkenal dengan Teknik Informatika nya, saat itu saya memilih jurusan tersebut karena saya pun memiliki ketertarikan pada dunia IT yang cukup besar pada dasarnya.
Hanya beberapa bulan berselang, penerimaan mahasiswa dari universitas negeri pun giliran dibuka untuk jalur undangan. Puji Tuhan, berdasarkan ranking saya diperbolehkan mencoba jalur tersebut. 1 tahun sebelumnya saya punya cita-cita untuk mengambil kuliah di FTTM ITB, Bandung, tetapi karena saya pernah mengikuti try-out SNMPTN dan nilai saya kurang 0,01 poin dari batas seharusnya, akhirnya saya memilih untuk tidak mengambil jurusan itu lagi di try-out yang selanjutnya. Mengapa kemudian tidak mencoba jalur undangan? Hemm…pada dasarnya fakta berbicara bahwa JB di tahun sebelumnya untuk jumlah siswa yang diterima jalur undangan ke universitas negeri memang sedikit sekali dibandingkan dengan SMA negeri. Namun, dengan sedikit keberanian saya ingin tetap mencoba, dan kali ini UGM menjadi target universitas saya. Teknik Kimia atau Teknik Geologi adalah jurusan yang membuat saya bingung. Mengapa demikian? Karena saat itu saya bercita-cita bekerja di sektor pertambangan/perminyakan, dan kedua pilihan jurusan tersbut saya peroleh dari hasil rekomendasi saudara saya yang telah bekerja di salah satu perusahaan multi nasional pada sektor pertambangan/perminyakan.
Mungkin sekitar 1 bulan berselang, pilihan saya pun berubah. Mengingat kata orang saya adalah anak yang kreatif dan dinamis, saya merasa bahwa jurusan Teknik Geologi mungkin kurang cocok dengan saya, dan untuk Teknik Kimia terasa begitu sulit mengingat ada 1 teman yang rankingnya di atas saya mendaftar. Sempat berbicara dengan ibu saya, beliau menyarankan saya mengambil jurusan yang berkaitan dengan IT seperti di UKDW, dunia yang memang pada dasarnya saya pun sukai. Jujur saja, gaji besar di dunia pertambangan dan perminyakan juga menjadi alasan sebelumnya saya ingin bekerja di bidang tersebut. Namun demikian, setelah melakukan beberapa research, akhirnya saya menemukan bahwa jurusan Teknologi Informasi resmi dipisahkan dari Teknik Elektro UGM sejak 2010, yang berarti saya bisa mendaftar. Akhirnya dari lebih 700 jam waktu yang saya miliki untuk memilih antara Teknik Geologi dan Kimia, 8 menit sebelum portal ditutup saya mengganti pilihan ke Teknologi Informasi, Fakultas Teknik UGM. Bermodalkan dengan rapor yang (mungkin) lumayan – tidak superior – dan 2 sertifikat olimpiade kimia dan jurnalistik, saya mencoba mengisi form yang diminta. Sempat terbesit pikiran bahwa mana mungkin seorang yang tidak naik kelas bisa diterima jalur undangan di universitas negeri.

“You do not fail, you just have to try once more. A winner is just a loser who tried one more time”

– A. Gandhi H.P. –

 

Hari demi hari pun berlalu dan Tuhan berkata lain, anak VOC dari de Britto ini menjadi salah satu dari 8 siswa jurusan IPA yang berhasil masuk jalur undangan, dan kebetulan semuanya masuk UGM. Sempat saya tidak tahu bagaimana cara melihat pengumumannya mengingat struk pendaftaran berisi password dan username saya hilang, tetapi akhirnya berhasil ditemukan karena Tuhan ingin mengatakan hal ini pada saya,”Ya kan Gan? Bisa kan kamu!” Dari sinilah saya mulai berpikir bahwa Tuhan tidak tinggal diam, Dia melihat kita, memperhatikan kita, dan mendengarkan kita. Bicara soal ‘permintaan yang dikabulkan’, bagi saya lebih terasa seperti ‘Kita lah yang memperjuangkan untuk meraihnya’ dan Tuhan dengan goresan kuas nya turut memberikan warna terbaiknya untuk membantu perjuanganmu yang telah memiliki keberanian untuk mencoba.
Akhir cerita, mantan VOC de Britto ini mendapatkan kesempatan untuk menjadi mahasiswa di usia yang sedikit lebih tua dari teman-temannya, meski ada yang seumuran atau lebih tua. Dengan kendaraan yang telah disiapkan oleh-Nya, pada tahun 2012 Andreas Gandhi Hendra Pratama resmi memiliki Nomor Induk Mahasiswa (NIM) 12/330379/TK/39553 . Seorang anak yang harus menjalani masa SMA selama 4 tahun karena tidak naik kelas dan seorang anak bandel yang rajin mencium jalan hingga 12 kali dalam 2 tahun ini akhirnya berhasil memetik 1 buah berikutnya dari pohon yang sedang ia coba tanam. Kemudian fakta membuktikan bahwa, “Gandhi, kamu bisa!” adalah benar adanya, dan saya pun yakin bahwa “Kalian BISA!”. Terima kasih

*Tulisan ini tidak bermaksud untuk membeda-bedakan universitas swasta ataupun negeri dari sudut pandang (POV) manapun. Penulis hanya ingin memberikan cerita yang diharapkan memberikan inspirasi dari sisi alur, moral story, dan perjuangan yang ada di dalamnya. Terima kasih

Author agandhihp

A business person who happens to know technology.

More posts by agandhihp

Join the discussion 12 Comments

  • m.a says:

    wah inspiratif sekali mas gandhi haha. sampe ngga percaya orang sekeren mas gandhi pernah ga naik kelas. Ijin comot quotesnya yak haha

    • agandhihp says:

      Terima kasih yaa 😀
      Justru mungkin kalau saya naik kelas, ceritanya akan lain. Setiap orang punya cara dan jalan masing-masing untuk memaknai hidup. Saya yakin semua indah pada waktunya 😀

  • Mirza Putra says:

    inspiratif sekali mas gandhi, kebetulan saya juga mahasiswa baru di jurusan teknologi informasi UGM, minta ijin untuk dijadikan tulisan inspirasi saya ya mas, hehehe….

  • Rere says:

    Assalamualaikum Mas Gandhi.. apakah Mas Gandhi salah seorang penggerak socialpreneurship di jogja? 🙏

    • agandhihp says:

      Dulunya sempat mencoba memulai, tetapi bersama teman-teman akhirnya memilih bekerja dulu untuk menambah pengalaman 🙂
      Salam kenal yaa Rere!

  • Louis Nicholas Kristanto says:

    Kebetulan saya baru masuk JB, saya terinspirasi bagaimana hidup bang Gandhi ini. Ada tips untuk sekolah di Jb ga bang ???

    • agandhihp says:

      Waahh…selamat bro! hehehe
      Tips d JB itu yang penting km tahu kenapa kamu belajar, kenapa kamu mau berorganisasi, dan kenapa kamu mau berusaha…all about WHY bro…then the HOWs atau cara nya kamu mau achieve smua goal mu bisa lebih mudah…jangan malu bertanya di JB yaak hehe

  • Should Be Avoided says:

    Senggak nyangka itu dengan kisah hidup mas Gandhi.. Semangat, sukses selalu, dan tetap menginspirasi ya mas!

  • cornel says:

    se-ga nyangka ini sampe sekarang gan. tp balik inget kalo org hebat pasti pernah terjatuh,dan bisa kembali ke jalurnya.
    sukses terus ya gan di kantor baru,jgn berhenti menginspirasi sekitarmu
    *ijin comot quote ya gan😁

Leave a Reply